Cara Penularan HIV/AIDS dan Pencegahannya: Benarkah HIV dapat Tertular melalui Perantara Nyamuk?


HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus merupakan sebutan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang sehingga rentan terhadap penyakit. Berbeda dengan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yang merupakan kelanjutan dari HIV, AIDS merupakan kumpulan gejala dan infeksi yang timbul akibat dari rusaknya sistem kekebalan tubuh akibat infeksi HIV, sehingga virus-virus akan lebih mudah menempel pada tubuh dan tidak ada kontrol terhadap virus tersebut. HIV/AIDS bisa berakibat fatal apabila tidak diobati sehingga diperlukan tindakan yang tepat untuk mengetahui, mengobati, hingga menghindari penyakit tersebut.
HIV dapat berubah menjadi AIDS memerlukan waktu 5-10 tahun. Hal ini terjadi karena proses menurunnya sistem kekebalan tubuh seseorang secara bertahap. HIV biasa menyerang sel darah putih khususnya jenis CD4. Sel darah putih ini normalnya berkisar 1000-an, namun bagi orang yang sudah terinfeksi HIV bisa menyentuh angka 300 hingga 200 kebawah. Oleh karena itu, seseorang yang sudah terinfeksi virus ini akan lebih mudah terkena penyakit dan sulit untuk sembuh. Di Indonesia sendiri, belum ada kasus kesembuhan pada penderita HIV/AIDS.
Umumnya HIV/AIDS dapat ditularkan melalui cairan tubuh dan hubungan seksual. Cairan tubuh yang dimaksud adalah cairan sperma-vagina ketika hubungan seksual, transfusi darah, saluran plasenta hingga ASI. “Kemungkinan besar 99,9% itu anaknya ikut menderita HIV, karena janin kan terhubung dengan tali pusar si ibu. Ada memang yang anaknya tidak menderita HIV, tapi ya sangat jarang ditemukan. Dari ASI juga bisa menularkan HIV. Biasanya kalau masih tiga bulan, empat bulan anaknya udah terdeteksi HIV bakal diminta untuk aborsi aja. Kalau uda 7-8 bulan, jika sekiranya bisa hidup ya dihidupkan,” jelas Dr. Flemming Wijaya (22/06/2019).  Penularan melalui hubungan seksual sesama jenis atau sering berganti pasangan juga mengakibatkan rentan terkena virus, imbuhnya lagi. Sehingga penularan melalui cairan ingus, air liur, air mata atau keringat tidaklah benar. Karena cairan ini hanya terkena bagian permukaan tubuh sehingga virus yang ditularkan tidak cukup kuat. Selain itu penularan melalui perantara barang atau binatang seperti nyamuk, semut, atau serangga juga tidak benar. Virus ini sangat rentan dan mudah mati pada udara bebas sehingga untuk masuk kedalam tubuh manusia sangatlah minim. Berbeda dengan jarum suntik atau alat cukur yang sudah terkena darah seorang penderita HIV. Penyebaran virus akan tetap kuat kedalam tubuh manusia apabila jarum tadi sudah terinfeksi. Hal ini dapat terjadi karena adanya darah yang menempel pada jarum suntik dan alat cukur sehingga apabila digunakan oleh orang lain -bukan penderita- akan rentan tertular virus tersebut.

Tanda-tanda orang yang terkena HIV dapat dikenali dari segi fisiknya. Apabila seseorang mudah lelah dan badannya pegal-pegal kemudian merasakan mudah sakit. Hal itu dapat diindikasi bahwa sistem kekebalan tubuh sudah terserang. Oleh karena itu, menjaga pola hidup seperti makan makanan yang bergizi, tidur cukup, olahraga teratur dapat meningkatkan dan menjaga kekebalan tubuh seseorang, tutup dokter umum sekaligus ahli akupuntur itu.

Penulis: Aprilia Nur Azizah
Editor: Fanny Aprilia
Cara Penularan HIV/AIDS dan Pencegahannya: Benarkah HIV dapat Tertular melalui Perantara Nyamuk? Cara Penularan HIV/AIDS dan Pencegahannya: Benarkah HIV dapat Tertular melalui Perantara Nyamuk? Reviewed by Raisya Latifa on Juni 23, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar