Dibalik Senyum Manis ODHA


Ita Adiarti, salah satu aktivis peduli HIV di Bojonegoro yang berasal dari Cepu, Jawa Tengah, merupakan penderita HIV yang berhasil bertahan dari infeksi menular. Ia mulai mengetahui bahwa dirinya terkena HIV pada tahun 2009 saat anak semata wayangnya yang baru berumur satu tengah tahun terdeteksi penyakit AIDS. Berawal dari sakit-sakitan yang diderita oleh bayi kecilnya dan berujung pada check up sang anak. Mental down dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa menjajaki pikirannya selama berhari-hari. Namun, hal ini tidak menjadikan Ita sebagai ancaman dan penderitaan. Ia harus bangkit dari keterpurukan dan berusaha sekuat tenaga demi kesembuhan anak karena baginya, sang anak adalah segalanya. Ia membayangkan anaknya akan tumbuh sehat dan berguna bagi masyarakat, nusa, dan bangsa.
Virus HIV ini ditularkan oleh mantan suami Ita yang dulunya adalah pecandu narkoba dan sudah meninggal dunia. Permasalahan muncul satu per satu dari keluarga saat mengetahui bahwa ia terjangkit virus HIV. Terlebih ketika anaknya yang masih bayi juga mendapati penyakit serupa dari ibunya. Support dan motivasi baru didapatkan setelah pihak keluarga mendapatkan fasilitas konseling dari pihak rumah sakit, sehingga masalah dapat terselesaikan. Teman dekat dan sahabat juga saling support agar tetap hidup dan menghidupi malaikat kecilnya.
Takdir yang dijalani Ita mengarahkannya pada JOTHI (Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia) di Surabaya. Disana ia menemukan teman-teman yang senasib dengannya. Sharing dan saling memotivasi membuat Ita semakin percaya bahwa ia dan anaknya dapat sembuh. Perubahan dari dalam diri terus berkembang karena yang dipikirkan hanyalah kesehatan, kesehatan dan kesehatan.
Dokumen 18 Juni 2019 di Hotel Haris, Surabaya

Setelah lama di Surabaya ia melanjutkan menjadi pendamping di daerah Bojonegoro. Apabila ada acara peringatan hari HIV/AIDS ia kerap kali menjadi pembicara bersama Dinas Kesehatan Bojonegoro untuk memotivasi teman-teman seperti saat pada saat peringatan di tahun 2017. Ita ingin menunjukkan bahwa orang yang terkena HIV/AIDS adalah manusia biasa sehingga sama dengan manusia normal pada umumnya. Penyakit HIV bukanlah penyakit kutukan atau azab dari Tuhan yang sangat mengerikan. “Harapannya HIV tidak lagi mengerikan di mata masyarakat, dan masyarakat dapat menerima orang HIV itu seperti manusia biasa aja”, ujar Ita. Ia berharap HIV tidak lagi menjadi momok masyarakat sehingga harus dijauhi. Ia ingin masyarakat dapat menerima ODHA sebagai orang biasa.

Penulis: Aprilia Nur Azizah
Editor: Fanny Aprilia
Dibalik Senyum Manis ODHA Dibalik Senyum Manis ODHA Reviewed by Raisya Latifa on Juni 23, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar