Sinta Ersanti : Psikolog yang Mengabdikan Hidupnya menjadi Pendamping Orang dengan HIV/AIDS


"Orang dengan situasi tertentu seperti pengidap HIV itu tidak untuk dijauhi, namun dirangkul, di support, bukan malah dikucilkan,” tutur Sinta Ersanti yang juga menjadi alasannya untuk mengabdikan hidupnya menjadi seorang pendamping konseling.
Perempuan asal Surabaya yang kerap disapa Bunda Iis ini memulai karirnya dalam pendampingan juga menjadi pendamping untuk orang dengan situasi khusus sejak tahun 90-an. Bukan karena ia seorang lulusan ilmu psikologi, namun karena ketulusan hatinya untuk mendengar dan merangkul juga memberi support orang-orang yang dalam situasi khusus.
Sebelum bertemu dengan Yayasan Mahameru yang bergerak untuk menaungi Orang dengan HIV AIDS (ODHA), Bunda Iis dulunya menjadi pendamping di wilayah kermil yang dikenal sebagai lokalisasi pekerja seks komersial jalanan di Kota Surabaya. Tak mudah bagi Bunda Iis untuk mengikis stigma masyarakat terhadap para wanita pekerja seks komersial. Bunda Iis menyampaikan bahwa pihaknya tidak bisa memberhentikan kegiatan seks komersial tersebut, namun beliau mengawasi dan mendampingi para penjaja seks agar tetap melakukan safety sex agar terhindar dari penyakit reproduksi khususnya HIV.
Berbagai tekanan dan hujatan muncul dari profesinya sebagai pendamping dimana Bunda Iis setiap harinya harus berada di wilayah lokalisasi untuk melakukan pendampingan, sebab untuk seorang perempuan yang berada di wilayah lokalisasi hal ini dianggap tabu meskipun Bunda Iis bukan bagian dari pekerja seks komersial.
Bahkan untuk meyakinkan keluarganya saja, Bunda Iis memerlukan waktu hampir 5 tahun. “Keluarga saya khawatir kalau saya bergumul dengan orang dengan HIV/AIDS, takut saya tertular juga. Ya, saya meyakinkan mereka secara perlahan bahwa saya bisa menjaga diri dan tahu bagaimana agar tidak tertular,” tuturnya.
Sinta Ersanti

Lambat laun beliau diperkenalkan oleh rekannya kepada Yayasan Mahameru, komitmen Bunda Iis semakin kuat karena telah menemukan yayasan yang bisa menjadi wadah baginya untuk terus berbagi kebaikan dan melakukan pendampingan kepada orang dengan situasi khusus.
Di sela-sela perjalanananya, Bunda bercerita naik turunnya selama menjadi pendamping. Sebuah kesenangan tersendiri apabila Bunda bisa menemui pasiennya yang dulu kurus kering, banyak luka infeksi dan kurangnya perhatian namun sekarang menjadi sehat, gemuk, dan memiliki keluarga yang mau menerima keberadaanya kembali.  “Bunda senang sekali kalau melihat mereka menjadi sehat kembali, rasanya lelah saya terbayar,” ucapnya.
Bunda juga menyampaikan susahnya menjadi pendamping untuk anak – anak yang mengidap HIV, tertular dari orang tuanya. Baginya, sulit sekali melakukan komunikasi dengan anak yang masih belum tahu pentingnya meminum obat untuk menjaga daya tahan tubuhnya. Saya harus menjelaskan perlahan agar si anak tetap mau meminum obat, saya takut kesehatannya kembali menurun kalau dia tidak mau minum obat lagi. Dari hal ini akhirnya saya terus belajar bagaimana menyampaikan hal yang mudah dipahami untuk anak-anak.
“Saya berharap, pekerjaan ini tidak hanya bagi satu orang saja,  namun menjadi pekerjaan bagi semua orang. Bahwa orang dengan situasi khusus mesti kita rangkul. PR besar bagi kita semua adalah harus terus menekan stigma masyarakat sambil mengedukasi supaya mereka juga turut serta mencegah penyebaraan HIV/AIDS,” ujar Bunda Iis.

Penulis: Dimas Angga Prayitno
Editor: Aprilia Nur Azizah

Sinta Ersanti : Psikolog yang Mengabdikan Hidupnya menjadi Pendamping Orang dengan HIV/AIDS Sinta Ersanti : Psikolog yang Mengabdikan Hidupnya menjadi Pendamping Orang dengan HIV/AIDS Reviewed by Raisya Latifa on Juni 23, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar