Mengupas Persoalan LGBT dengan Kacamata Psikologi
Dewasa ini kata LGBT
sudah tidak asing lagi terdengar. Lesbian Gay Biseksual dan Transgender,
merupakan kalangan non-heteroseksual dan juga merupakan kalangan
minoritas dalam halnya seksualitas. Lesbian merupakan istilah bagi
perempuan yang orientasi seksualnya mengarah pada penyuka sesama perempuan.
Sedangkan Gay kebalikannya, yakni laki-laki yang mengarahkan orientasi
seksualnya kepada sesama laki-laki. Biseksual merupakan gabungan dari
keduanya, ketertarikan hasrat seksual kepada pria dan wanita. Terakhir Transgender
yaitu memiliki identitas gender yang berbeda dengan seksnya yang
ditunjuk saat lahir, bisa dilakukan dengan halnya transisi melalui operasi.
Berpandang pada
kacamata psikologi, menurut Dra. Veronika Suprapti, M.S.Ed., Psikolog. LGBT
itu kompleks, terbagi atas identitas seks dan orientasi seks. Identitas seks
sendiri seperti wanita atau pria yang tertulis dalam KTP (Kartu Tanda Penduduk). Sedangkan orientasi
seks, dipengaruhi oleh
kromosom dan hormon, serta pola nercure (pengasuhan).
![]() |
| Dra. Veronika Suprapti, M.S.Ed., Dosen Psikologi Unair. Dokumen 18 Juni 2019 |
Secara biologis,
manusia dilahirkan dengan kromosom XX (perempuan) dan XY (laki-laki). Sedangkan
hormon, terdapat dua syndrome yang kerap terjadi sebagai salah satu
faktor mengapa seseorang itu mengidap kelainan seksual. CAIS (Complete
Androgen Insentivity Syndrome) yakni bayi dengan kromosom XY (laki-laki) tetapi
kekurangan receptor untuk androgen, sehingga lahir sebagai perempuan
tetapi di waktu remaja mengalami gagal menstruasi akibat tidak memiliki ovarium melainkan
testis. Dalam artian seorang pengidap CAIS dianggap sebagai anak laki-laki
tidak sempurna, karena testisnya tidak turun. Namun, suatu saat bisa turun. Androgen adalah sebuah hormon yang mengatur segala
sesuatu yang berhubungan dengan organ reproduksi laki-laki.
CAH (Congenital
Adrenal Hyperplasian), berbanding terbalik dengan CAIS, bayi CAH lahir
dengan tingkat androgen tinggi, sehingga seorang anak perempuan dengan CAH
cenderung menunjukkan preferensi yang tinggi pada mainan yang biasanya
dimainkan oleh anak laki-laki.
Faktor lingkungan juga
sebagai pendukung anak dengan kelainan seksual ini. “Apabila fokus
pengasuhan dengan cara deterministic
berarti anak tersebut harus mengikuti konstruksi sosial gender yang dimilikinya. Tetapi kembali lagi kepada individu anak
tersebut, cenderung secara psikologis ia merasa tertekan dan hidup dengan
perasaan guilty (rasa bersalah). Kebalikannya dengan pola pengasuhan
voluntaristik yakni lebih membebaskan anak untuk memilih mengikuti kehendaknya,
individu anak cenderung akan lebih enjoy, dan tidak merasa tertekan,” jelas Vero, dosen
Psikologi di Universitas Airlangga (18/06/2019).
“Selain itu bisa juga
terjadi karena kromosom X nya lebih mendominasi daripada Y, begitu juga
sebaliknya bisa saling memengaruhi,” ungkap Weidy mahasiswa Psikologi semester
6.
Individu menyadari dia
mengidap kelainan seksual, sekarang dilihat sebagai orientasi seksual memiliki kasus yang
berbeda-beda. Ada anak yang merasa sejak SD atau
sejak umur lima
tahun sudah merasakan memiliki orientasi seksual yang berbeda dalam dirinya, ada pula yang baru
merasakan saat sudah menuju dewasa.
Hingga saat ini LGBT
tidak bisa dipulihkan, tetapi terdapat
sisi positif dan negatif yang bisa di ambil dari perihal LGBT. Menurut
pandangan Vero, sebagai seorang yang berkecimpung dalam bidang Psikologi. “LGBT
itu bisa saja dianggap sebuah anugerah, ibarat katak. Katak kan bisa ke air
bisa ke darat to, jadi ya seorang LGBT itu anugerah Tuhan karena bisa kesana-kesini,” tukas dosen pengampu
mata kuliah psikologi gender itu.
Ilustrasi katak
dilabelkan sebagai kaum LGBT, kemudian ilustrasi ikan sebagai individu normal.
Dalam ilustrasi, dikisahkan katak yang bisa melihat dunia air dan darat
sedangkan ikan yang hanya hidup di dunia air. Dalam artian seorang LGBT bisa
saja menjadi dirinya sendiri dengan kelainan seksual salah satunya menyukai
sesama jenis. Bisa juga dengan menopeng dirinya untuk berakting seakan-akan
individu normal biasanya. Disebut anugerah karna bisa melihat kedua dunia air
maupun darat secara bersamaan. “Namun, katak ini harus siap apabila
sewaktu-waktu dunia air dan darat protes akan ketidak-konsistenan katak,” tutup
Vero.
Penulis: Fanny Aprilia
Editor: Aprilia Nur Azizah
Mengupas Persoalan LGBT dengan Kacamata Psikologi
Reviewed by Raisya Latifa
on
Juni 23, 2019
Rating:
Reviewed by Raisya Latifa
on
Juni 23, 2019
Rating:


Tidak ada komentar